Pulang, Proyeksi Personal dari Alam
Sekilas tentang Nenden Lilis. Penyair perempuan ini lahir di Malangbong-Garut Jawa Barat, 26 September 1971. Tulisan-tulisannya berupa esai, resensi, reportase, cerpen dan puisi tersebar di berbagai media massa. Sejumlah puisinya terbit dalam berbagai antologi, antara lain Mimbar Penyair Abad 21, Malam Seribu Bulan, Tangan Besi, Gelak Esai dan Ombak Sajak Anno 2002, Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, Dari Fansuri ke Handayani, Wanita Penyair Indonesia, Nafas Gunung, Bunga Berserak, Aku akan Pergi ke Banyak Peristiwa. Negeri Sihir adalah buku antologi puisi tunggalnya. Puisi-puisinya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Belanda.Pulang
”kau yang pulang
adalah kau yang mengerti kerinduanku”
namun, bagaimanakah aku pulang
aku telah menggulung kenangan akan ibu
dan rumah masa lalu
seperti menggulung geribik bekas menjemur padi tadi siang
di sore hari, dalam kesenyapan dan kekelaman gudang belakang
sebab sungguh pedih menatap tubuh ringkih
dan mata yang pernah mengobarkan duka lara
pohon-pohon cengkih yang dibakar
(telah silam kuhirup harum cengkih
yang dipetik dan disiram keringat letih)
sebab nasib sekesat getah manggis muda
yang kutemukan pada tirus wajah bapa
(pipi hitamnya secekung daun kedondong
pandangnya kehilangan keriangan daun-daun kastuba)
setelah sirna kebun dan lumpur sawah
dan semangat kerja menetesi setiap bulir gabah
adikku menapi hari-hari pilu
seolah memisah beras dari pasir dan batu
(aku gamang
tak mengerti lagi arti pulang)
2007-2008
Yang pergi mestilah kembali. Begitulah setidaknya jawaban penghibur bagi manusia yang selalu mempertanyakan arti keberadaannya. Entah dari mana, entah pergi ke mana, dan entah kembali ke mana. Pencarian yang serba holistik dan menjemukan itu selalu saja kembali pada soal eksistensi manusia. Manusia takut kehilangan kesadarannya, manusia takut pada ketidakpastian dan takut pada pengetahuan terhadap kematian. Pada akhirnya peganganlah yang dicari.
Pada sajak “Pulang”, begitu juga sangat nampak Nenden Lilis terusik oleh kesadarannya terhadap eksistensi manusia. Eksistensi dirinya. Ketika ia mengalami kesadaran sedang dalam sebuah perjalanan yang bernama pergi, maka sadarlah juga ia pada satuhal yang pasti menjemput. Pulang. Sebab yang pergi akan selalu pulang. Kejadian manusia umum.
Apakah sajak ini mengemukakan pengalaman semua orang? Mungkin, tapi tidak dengan peristiwanya. Seperti sajak neo-romantisme[1] indonesia lainnya sajak pulang juga lebih menekankan proyeksi personal ketimbang menjadi lanskap imaji eksternal. Meski mengangkat pengalaman umum, jelas peristiwa yang diangkat samasekali khas persoalan pulang Nenden Lilis. Dalam sajak ini peristiwa puitik justru diciptakan ketika si aku lirik yang hendak pulang malah merasa kehilangan arah, karena “Kau” yang “mengerti kerinduanku” sebagai pegangan dalam perjalanan sudah tak ada. Sebab telah “aku” gulung seperti “kenangan akan ibu”. Maka timbul lah kehilangan arah itu. Tak adanya pegangan dan penunjuk jalan membuat “aku” tak tahu lagi harus pulang ke mana. Atau bahkan rumah yang paling mengerti kerinduannya sudah tak ada, maka ia tak bisa pulang. Sebab memang tak ada lagi tempat pulang baginya. Lalu tergagaslah pertanyaan “bagaimanakah aku pulang”.
Mengenai tempat pulang Nenden memberikan gambaran yang kuat bahwa yang dirindukan oleh “aku” adalah keluarga, rumah masa kecilnya. Betapa tidak, dalam sajak ini semua lamunan dan pemikiran “aku” diisi oleh kenangan ibu, bapa dan adik. Maka jadi kaburlah pandangan terhadap identitas “kau yang pulang”, sebab bisa saja “kau” adalah salahsatu diantara mereka, semuanya, atau di luar kategori itu.
Bicara gaya bahasa dan diksi. Dengan mencatut gambar-gambar alam tidak lantas membuat sajak ini menjadi lanskap imaji eksternal, tapi justru seperti yang kita bicarakan di awal, membuatnya semakin kuat memproyeksikan perasaan personal si “aku” lirik. Mungkin itulah yang istimewa pada sajak ini. Begitu banyak diksi yang berasal dari alam justru bukan untuk memberikan pemandangan eksternal, namun pemandangan internal dari perasaan “aku”. Misalnya saja: “seperti menggulung geribik bekas menjemur padi tadi siang/ di sore hari, dalam kesenyapan dan kekelaman gudang belakang” kemudian “dan mata yang pernah mengobarkan duka lara/ pohon-pohon cengkih yang dibakar” atau “setelah sirna kebun dan lumpur sawah/ dan semangat kerja menetesi setiap bulir gabah/ adikku menapi hari-hari pilu”. Nenden menggambarkan perasaannya dengan memanfaatkan kondisi alam. Namun sekali lagi bukan semata untuk kepentingan eksternal namun kepentingan proyeksi dari dalam.
Begitulah juga rupanya Nenden menggunakan istilah pertanian dan tanaman seperti: geribik, padi, pohon cengkih, getah, manggis muda, kebun, lumpur sawah, gabah dan menapi. Inilah Neo-romantisme. Inilah proyeksi personal melalui penggambaran kondisi lingkungan.
*R. Aji Dorna, lahir di Bogor 24 Juni 1992. Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.